Rabu, 27 April 2011

SIMBOLISASI PESAN==>SENI BERKOMUNIKASI LEVEL TINGGI


Beberapa waktu lalu, saya menghadiri acara pemakaman putra dosen saya. Ada satu hal yang menarik perhatian saya dalam acara tersebut. Di depan rumah duka, ada semacam “hiasan” (entah dengan kata apa saya harus menyebutnya) yang terdiri dari rangkaian pohon pisang, menir (bunga kelapa), cengkir (kelapa kecil), dan beberapa komposisi dari tumbuhan lainnya. Saya teringat dengan suatu pelajaran yang dahulu pernah disampaikan oleh almarhum Abah Kyai saya, Prof. DR. KH. Sahilun A. Nasir, M.Pd.I. ==> Allahummaghfirlahuu… Saya pun mencari catatan pengajian yang sepertinya pernah saya buat berkenaan dengan hal ini. Alhamdulillah… ketemu.
Saya membuat catatannya pada suatu hari antara 17 Sepember 2006 dan 1 Oktober 2006. Rupanya saya lupa membubuhkan tanggal untuk catatan ini. Namun, ada catatan tertanggal 17 Sepetember 2006 di catatan sebelum catatan tentang ini. Dan ada catatan tertanggal 1 Oktober 2006 setelah catatan ini. Jadi, cukuplah beralasan kalo saya memperkirakan bahwa catatan tentang ini saya buat antara tanggal-tanggal tersebut. Whuaaaah…. Masih bisa dikenang rupanya… sukak… sukak… sukak… kalo gak salah waktu itu adalah pengajian shubuh. Saya masih ingat masa2 itu… suatu masa dimana saya adalah seorang santri kecil yang cukup untuk dibilang rajin membuat catatan pengajian. Hahaghagh.. bukan gaya ato apalah sejenisnya, emang dimasa itu bahkan sampai saat nei, masih jarang temen2 santri di pondok saya yang menyempatkan diri untuk membawa buku catatan. Saya hanya mau berhusnudzon sajaàingatan mereka cukup baik sedang ingatan saya tidak sebaik temen2 santri lainnya.

Kembali ke topik…
Abah Kyai saya menyebut rangkaian (“hiasan”) semacam itu sebagai sebuah simbolisasi pesan. Sepertinya, ini yang juga termaksudkan dengan adanya serangkaian pohon pisang, menir dan cengkir dalam acara pemakaman putra dosen saya. Coba pikir ajah… kenapa yang dipake pohon pisang?? Bukan pohon rambutan, mangga, ato sengon?? Kenapa menir dan cengkir (bernotabene sebagai bagian dari pohon kelapa) yang dipake?? Bukan kembang kenongo dan buah melon?? Ternyata kesemuanya diambil dari filsafat yang terkandung dari setiap benda yang dipakai. Pohon pisang dalam keadaan normal tidak akan mati sebelum ia berbuah. Bahkan ketika batangnya dipotong sebelum berbuah, ia akan tumbuh lagi sampai ia berbuah. Seorang mati yang dinisbatkan pada filsafat pohon pisang maka seorang tersebut semasa hidupnya dianggap telah menghasilkan buah (karya) yang sudah dapat bermanfaat. Seperti pohon pisang yang enggan untuk mati ketika ia telah menghasikan buah, maka si mati juga ikhlas untuk dipanggil oleh Yang Maha Kuasa ketika ia telah berkarya.   

Begitu pula dengan filsafat pohon kelapa. Tidak ada bagian dari pohon kelapa yang tidak bermanfaat. Kesemuanya dapat digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Buah kelapa untuk santan, batang kelapa untuk bangunan rumah, akarnya untuk kerajinan, blaraknya untuk sapu lidi, dsb. Maka, adanya symbol dari pohon kelapa mengartikan bahwa sebagai manusia yang masih lebih beruntung dibanding si mati (masih diberi kesempatan hidup), kita harus selalu bisa bermanfaat dalam hidup.

Sebenernya masih banyak simbolisasi lain dari berbagai macam acara kehidupan. Sebut saja tradisi saling antar kue apem disaat menjelang puasa ramadhan. Apem merupakan simbolisasi pesan agar kita bisa menjaga perkataan selama bulan Ramadhan. Kok bisa?? Singkatnya ==> apem=mingkem. Gak mungkin bilang apem sambil mangap (posisi mulut terbuka). Mingkem (posisi mulut tertutup) ber-sense tak banyak bicara ato bahkan menjaga perkataan.  

Lihat pula hiasan ketika acara mantenan. Kenapa kok pake kembang mayang dengan segala propertinya?? mulai dari janur kuning, pisang raja, kelapa gading, 2 tebu wulung lurus berwarna keunguan, padi dll. semuanya memilki makna yang mendalam.

Bagi saya, simbolisasi pesan ini cukup menarik dicermati dan merupakan seni tersendiri dalam berkomunikasi. Bahkan saya meletakkan kasta seni berkomunikasi ini pada kasta di level yang tinggi. Bagaimana saya tidak meletakkan di kasta level tinggi, lha wong tanpa berujar pun, orang lain bisa mengerti maksud yang akan disampaikan. Hanya dengan menggunakan benda yang dianggap tak memiliki arti apapun, namun sesungguhnya memiliki makna, kesan, dan pesan yang mendalam. Hahaha.. saya sepertinya pernah pake seni berkomunikasi seperti ini. Yang mana tapi yaahhh??? Saya akan coba ingat-ingat kembali….

1 komentar:

anks mengatakan...

wah menarik iki rish...tapi sayangnya hari ini tidak banyak yang mau capek" memikirakan itu...
so efek'e jelas,kehilangan makna dan tujuan...
:D