Ketika saya menuliskan tulisan ini, saya baru selesai melaksanakan tugas sebagaimana yang adhik-adhik angkatan saya minta yaitu mengisi sebuah segmen disuatu acara pondok ramadhan sebuah SMP tempat mereka melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL). Disini,
Selasa, 16 Agustus 2011
Rabu, 27 Juli 2011
Jembatan Tukad Bakung - Catatan Perjalanan
Jembatan Tertinggi se-Asia
Jalan nan panjang dan jauhnya jarak pun kami tempuh. Semakin banyak roda berputar, semakin tinggi angka bersatuan meter dpl. Dibeberapa jarak, jalan tidak lagi mulus semulus kulit apel america, melainkan berlubang-lubang laksana bercak-bercak dikulit berpanu-kadas. Tapi hal itu tidak menjadikan diriku meninggalkan kesan bahwa perjalananku kali ini tidaklah menarik. Justru sebaliknya,
Selasa, 19 Juli 2011
Semangat Skripsi pake Analogi Dua Kerja
Saya kerap momotivasi diri dengan melakukan analogi suatu pekerjaan yang sedang saya kerjakan dengan pekerjaan lain yang bagi saya bernilai mulia. Seperti halnya dengan pekerjaan yang Alhamdulillah baru saya rampungkan, skripsi. Saya pun menganalogikannya dengan sebuah pekerjaan mulia bernama haji. Bagi saya, ibadah haji merupakan satu cita diantara ribuan cita yang ingin digapai sebelum saya menghembuskn nafas terakhir. Pasti demikian pula denganmu (bila seorang muslim), muslim mana sih yang gak mau berangkat haji??
Bukanlah tidak beralasan saya menganalogikan "jihad" skripsi saya dengan runtutan ibadah haji.
Drama Jam Arab (catatan perjalanan)
…
Orang 1 | : | “permisi… siapa yak tadi yang laporan barangnya hilang??” |
Orang 2 | : | “Saya mas…” (terdengar lirih dari tempat duduk di barisan belakang bus) |
Orang 1 | : | “kok bisa mas?? Gimana samean itu… dari mana samean?? Dari Sumatra yah?? Kok bisa seh??” (seperti berondongan peluru yang dilepaskan untuk musuh disaat perang Badar -->emang ada peluru diperang Badar?). |
Orang 2 | : | “iya mas. Saya dari Sumatra. Ndak tau gimana hilangnya. Tadi saya tidur dan … bla… bla… bla…”. |
Orang 1 | : | “wadoooh… gimana samean nei mas.. mau kemana samean?? Ndak usah takut, saya pengawas bus ini.” |
Orang 2 | : | “mau ke situbondo mas…” |
Orang 1 | : | Waaaah.. nei bukan ke situbondo mas. Nei ke Bali, lewat gumitir. Ndak ke situbondo nei mas. Salah samean. |
Orang 2 | : | “hahh… haduh.. gimana nei mas. Saya ndak punya uang lagi. |
Orang 1 | : | “yawes… samean ikut saja. Nanti oper di Genteng. Tapi samean tetep harus mbayar mas.” |
Orang 2 | : | “saya ndak punya apa-apa lagi mas selaen jam yang saya pake ini. Tapi nei Jam Arab. Eman saya mas.” |
Senin, 23 Mei 2011
Pesan "Kebapakan" Pak Prof.
![]() |
| Prof. DR. Arief Rahman H, M.Pd. |
Sebagai seorang yang belajar, tentunya saya banyak mendapatkan pesan atau nasehat untuk kebaikan saya. Ntah berapa banyak nasehat dan pesan yang saya dapatkan. Ntah berapa banyak pula pesan dan nasehat yang telah saya laksanakan pun pula saya abaikan. Yang jelas, pesan dan nasehat itu saya dapatkan baik dari orang lain, guru, orang tua, maupun teman. Bentuknya pun baik secara verbal maupun non-verbal, baik orally maupun secara tertulis.
Jumat, 06 Mei 2011
Jangan Skeptis pada Gurumu
![]() |
| Kelihatannya Garang... tapi dia baek kok. |
Jangan curiga atau takut pada dosen hanya karena desas-desus stereotype tentangnya. Kadangkala kakak kelas akan berdongeng tentang model, style, karakter maupun reputasi seorang dosen tertentu. Mereka memberikan stereotype tertentu pada dosen tersebut menurut pandangan mereka sendiri. Padahal pandangan tersebut belum tentu 100% benar bahkan kadangkala sangat berkebalikan dengan kenyataan yang ada.
Cerita yang sering kali diberikan adalah bahwa dosen tersebut sulit memberi nilai yang baik pada mahasiswa, dosen tersebut galak, dosen tersebut (bahkan, amit-amit…) centhil, mesum, dan lain-lain. Mahasiswa yang mendengarkan cerita tentang dosen tersebut akan menjadi (semacam) terdoktrin pikirannya terhadap dosen yang bersangkutan. Akibatnya, sebelum mengikuti kegiatan belajar-mengajar dengan dosen yang bersangkutan, seringkali mahasiswa terpengaruh dengan cerita tentang reputasi dosen tersebut. Bahkan lebih parah lagi adalah mahasiswa menjadi enggan mengikuti kelas dosen yang bersangkutan. Biasanya, hal ini berujung pada buruknya prestasi mahasiswa pada mata kuliah yang diajarkan oleh dosen yang bersangkutan. Hal ini seharusnya tidak terjadi.
Saya pernah mengalami hal seperti yang tersebut diatas. Suatu ketika,
Rabu, 04 Mei 2011
Mesum dan Guru Cowok
![]() |
| gak jadi guru lagi dah kalo kayak gini... |
Sebagai seorang yang (sepertinya) kecenderungan mindset-nya berkutat dengan dunia pendidikan, maka segala hal yang berbau pendidikan walau sekecil buah dzarrah pun akan menjadi menarik untuk saya dengar. Begitu pula yang terjadi beberapa hari yang lalu ketika saya berreuni super kecil-kecilan bersama teman masa MTs saya, bundo Feny dan Budhe Anis. Dan setelah berputar kesono-kemari, tibalah dominasi obrolan geje kami pada sebuah topik tentang gossip di sekolah mereka (daku tidak bersama mereka lagi karena kami berada di SMA yang berbeda) yang sebenernya telah menjadi cerita usang dengan kadar expired ± 5 tahun. Yang kami obrolkan adalah cerita tentang perbuatan mesum guru cowok terhadap muridnya. ==> saya dan mereka nei bukan nge-gosiip lhoh.
Saya tidak akan ambil pusing tentang kebenaran omongan itu.
Senin, 02 Mei 2011
Wa'alaikum Sayank... ---> Salam Nyleneh tapi Asyik
Minggu, 01 Mei 2011
Rabu, 27 April 2011
SIMBOLISASI PESAN==>SENI BERKOMUNIKASI LEVEL TINGGI
Beberapa waktu lalu, saya menghadiri acara pemakaman putra dosen saya. Ada satu hal yang menarik perhatian saya dalam acara tersebut. Di depan rumah duka, ada semacam “hiasan” (entah dengan kata apa saya harus menyebutnya) yang terdiri dari rangkaian pohon pisang, menir (bunga kelapa), cengkir (kelapa kecil), dan beberapa komposisi dari tumbuhan lainnya. Saya teringat dengan suatu pelajaran yang dahulu pernah disampaikan oleh almarhum Abah Kyai saya, Prof. DR. KH. Sahilun A. Nasir, M.Pd.I. ==> Allahummaghfirlahuu… Saya pun mencari catatan pengajian yang sepertinya pernah saya buat berkenaan dengan hal ini. Alhamdulillah… ketemu.
Selasa, 26 April 2011
Menghadapi Siswa Pengacau Kelas
![]() |
| gak mau saya punya siswa begginiy... muoooh..!! |
Mendapatkan siswa yang bergelar “pengacau” di kelas merupakan sebuah hal yang lumrah atau wajar. Pastilah ulah siswa tersebut membuat kesal si guru. Gimana gak bakal muangkel, lha wong si guru ntuh terganggu disaat dia dikejar deadline untuk segera membuat siswanya mengerti tentang suatu ilmu. Iya kan?? Saya juga memiliki cukup banyak pengalaman tentang hal ini.
Biasanya, kalo guru udah mendapatkan situasi seperti nei, dia bakalan menghukum si pengacau dengan hukuman yang bentuknya bisa bervariasi. Mulai dari dijewer, dipukul, disetrap, dan diminta untuk meninggalkan kelas. Lucunya, bahkan guru itu sendiri yang tiba-tiba ngambek gak mau ngajar. Haha… padahal yang gini nei yang merugikan. Selain menurunkan kredibilitas guru, semua tujuan pembelajaran yang dilakukan bakal gak kesampaian. Pasti dunk merugikan siswa pun pula si guru.
Bagi saya, ada cara yang cukup gentle untuk mengatasi hal ini.
Rabu, 20 April 2011
“Hipotesis defisit” untuk Mengontrol Kualitas Sistem
Saya meminjam istilah ini dari sebuah buku berjudul Reorientasi Pendidikan Islam karya Jusuf A. Feisal. Dalam penjelasan yang diutarakannya, hipotesis defisit merupakan suatu anggapan adanya kekurangan (dalam sebuah sistem) jika diukur dengan menggunakan budaya lain. Lebih jelasnya begini… dalam tulisannya tersebut, beliau menjabarkan tentang institusi pendidikan Islam, yang berdasarkan tujuan institusionalnya, bertujuan untuk menciptakan ahli-ahli agama. Namun, ketika institusi pendidikan Islam itu menoleh pada suatu nilai lain diluar institusinya, maka institusi pendidikan Islam tersebut beranggapan perlu untuk menyesuaikan diri. Misal: sebuah pondok pesantren. Pada awal pendiriannya, pesantren hanya difokuskan pada mencetak ahli-ahli agama. Namun kenyataannya pada saat ini, pendidikan diluar matapelajaran agama pun menjadi arah tujuan institusionalnya. Untuk itulah pesantren adakalanya melakukan perbaikan kurikulum baik dengan menambah beberapa matapelajaran, penyusunan kembali teknis kerja/kegiatan, dan lain sebagainya.
Terlepas dari konteks yang digunakan oleh Jusuf A. Feisal dalam tulisannya, coba hanya gunakan istilah hipotesis defisit tesebut. Saya rasa, konsep hipotesis defisit ini bisa kita pakai untuk melakukan penilaian terhadap sistemyang kita jalankan, yang selanjutnya dari penilaian tersebut dibuatlah kebijakan untuk melakukan pengembangan. Intinya adalah membandingkan sistemyang kita miliki dengan sistemlain ato tata nilai lain yang ada diluar namun masih memiliki keterkaitan dengan sistem
Selasa, 19 April 2011
Isu "KUNCI JAWABAN PALSU" untuk Melawan Kecurangan UN
| Kayakne dah denger isu "Kunci Palsu" anak nei, jadi gak bakal nyontek dia. |
Berbicara tentang UN (Ujian Nasional), maka juga tak akan lepas dari problematika kecurangannya. Parahnya, kecurangan nei bukan hanya murni dari siswa, bahkan guru pun kadangkala ikut serta berpartisipasi ==> tapi gak semua guru lhoooh…. Kecurangan ntuh pun terpaksa dilakukan berdasar pada alasan yang slama nei selalu itu-itu saja. Sudah jadi alasan klasik seperti duel klasik antara Real Madrid dan Barcelona. Annual match yang pasti selalu ada, tapi selalu menghadirkan adrenalin yang tetep sama hebohnya. Alasan nglakukan kecurangan dalam UN yang selalu sama, tapi topiknya selalu dibahas ditiap tahunnya.
Hahaha… kalo bicara kecurangan nei, jadi kasihan ma yang bikin soal ato yang punya wewenang melaksanakan UN. Kasihan pula pada BAN (Badan Akreditasi Nasional)
Senin, 18 April 2011
Humor dalam Kelas
Humor merupakan komponen penting di dalam kelas. Saya pikir bahwa jika saya bisa membuat anak-anak saya tertawa, maka mereka lebih mungkin untuk melakukan apa yang saya ingin mereka lakukan. Siswa hanya perlu mengetahui bahwa saya tidak terjebak pada kekakuan. Jadi, konsep pembelajaran joyful learning dengan menghilangkan ke-angker-an kelas setidaknya bisa dihilangkan. Walaupun demikian, saya juga mengakui bahwa untuk beberapa hal, menjadi lucu tidaklah sesuai dengan kelas tertentu. Misal:
Minggu, 17 April 2011
Kisah-kisah Teladan dan Karakter Anak
![]() |
| karakter anak bisa dibentuk melalui kisah-kisah teladan |
Saya pernah mendengar pun sempat mendiskusikan topik tentang penanaman moral melalui kisah-kisah teladan. Saya sendiri pun pernah dengan sengaja menerapkan teknik ini dengan bercerita tentang pengalaman pribadi untuk memberikan semangat kepada anak didik yang menjadi tanggung jawab saya mendampingi mereka dalam sebuah even lomba kepalangmerahan. Dan itu benar-benar terbukti memberikan perubahan sikap bagi mereka. Saat ini saya terdampar dalam buaian susunan kata-kata dalam sebuah buku yang mewacanakan tentang hal itu, kisah-kisah teladan dan moral. Hahaha…. Lucunya, saya membaca ditengah-tengah acara bola di TV. Yo kok sempat-sempatnya saya nei mbawa buku sambil nonton bola. Hihihi…
Kisah-kisah teladan memberikan kekuatan dalam pembentukan karakter anak.
Langganan:
Postingan (Atom)













